ASUHAN KEBIDANAN BERKESINAMBUNGAN PADA NY. L USIA 26 TAHUN G2P1A0AH1 DENGAN PRESENTASI SUNGSANG DI PUSKESMAS PANJATAN II KABUPATEN KULON PROGO

ASUHAN KEBIDANAN BERKESINAMBUNGAN PADA NY. L USIA 26 TAHUN G2P1A0AH1 DENGAN PRESENTASI SUNGSANG DI PUSKESMAS PANJATAN II KABUPATEN KULON PROGO
2025-05-21
en
Thesis
text
Angka Kematian Ibu dan Bayi masih tinggi di Indonesia, sebagian besar disebabkan kurang optimalnya deteksi dini kehamilan risiko tinggi seperti BBLR dan janin sungsang. Di DIY tahun 2022 tercatat 2.323 kasus BBLR, dengan 288 kasus di Kulon Progo. Di Puskesmas Panjatan II, ditemukan 9 kasus janin sungsang dari 253 ibu hamil pada Januari–Mei 2025. Kondisi seperti TFU tidak sesuai dan kenaikan berat badan yang tidak adekuat menjadi indikator penting yang kerap terabaikan. Pendekatan continuity of care (COC) dibutuhkan untuk memastikan pemantauan berkelanjutan dan pencegahan komplikasi sejak kehamilan hingga masa nifas, guna meningkatkan keselamatan ibu dan bayi. Kunjungan ANC ditemukan ibu mengalami kehamilan dengan presentasi sungsang dan suscpect IUGR. Pada tanggal 28 Maret 2025 ibu bersalin di RS Rizki Amalia pada usia kehamilan 39 minggu 3 hari secara SC atas indikasi presentasi sungsang dan IUGR. Selama masa nifas ibu tidak terjadi komplikasi. Bayi mengalami BBLR dengan berat 2205 gram, bayi dalam kondisi sehat dan tidak ada masalah. Ibu sudah menggunakan KB IUD pasca salin sesuai rencana awal. Asuhan kebidanan berkesinambungan pada Ny. L usia 26 tahun G2P1Ab0Ah1 dilakukan sejak kehamilan trimester akhir dengan kondisi presentasi sungsang dan TFU di bawah normal. Selama kehamilan, dilakukan pemantauan rutin dan edukasi, namun posisi janin tidak berubah hingga akhirnya dilakukan sectio caesarea. Bayi lahir dengan BBLR dan dalam kondisi stabil dan sehat hingga kunjungan kedua. Pada masa nifas, ibu mendapat asuhan menyeluruh termasuk pemulihan pascaoperasi, dukungan menyusui, serta konseling KB, dan memilih IUD sebagai metode kontrasepsi. Diharapkan bidan dapat meningkatkan mutu asuhan kebidanan secara berkesinambungan dengan pemantauan ketat pada kehamilan risiko tinggi seperti janin sungsang dan BBLR, agar komplikasi dapat terdeteksi dan ditangani lebih awal. Mahasiswi kebidanan juga perlu mengembangkan keterampilan klinis dengan mengintegrasikan teori dan praktik secara holistik. Peran serta keluarga dan kesadaran pasien sangat penting dalam mendukung keberhasilan asuhan serta keselamatan ibu dan bayi.