GAMBARAN KENAIKAN BERAT BADAN BADUTA
SEBAGAI INDIKASI GEJALA STUNTED DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS BANTUL 2, KABUPATEN BANTUL
GAMBARAN KENAIKAN BERAT BADAN BADUTA
SEBAGAI INDIKASI GEJALA STUNTED DI WILAYAH
KERJA PUSKESMAS BANTUL 2, KABUPATEN BANTUL
2025-05-19
en
Thesis
text
Latar Belakang : Stunting merupakan kondisi dimana Panjang atau tinggi badan
bayi lebih pendek dari usianya. Prevalensi stunting di Kabupaten Bantul mengalami
kenaikan dari 6,42% pada tahun 2022 menjadi 6,45 % pada tahun 2023.
Tujuan : Mengetahui gambaran kenaikan berat badan baduta sebagai indikasi
gejala stunted di wilayah kerja Puskesmas Bantul 2, Kabupaten Bantul
Metode : Penelitian deskriptif dengan metode cross-sectional. Subjek penelitian
adalah baduta stunting sebanyak 32 orang. Penelitian ini dilakukan pada November
2024 sampai April 2025, dengan menggunakan data sekunder dari EPPBGM
Puskesmas. Analisa menggunakan distribusi frekuensi.
Hasil : Baduta stunting sebagaian besar berusia 20-23 bulan sebanyak 15 orang
yaitu 46,9%, sebagian besar baduta stunting berjenis kelamin laki-laki sebanyak 20
orang yaitu 62,5%. Berdasarkan frekuensi penimbangan baduta stunting selama 12
bula terakhir sebagian besar baduta stunting dengan frekuensi penimbangan selama
10x dalam 12 bulan terakhir sebanyak 12 orang yaitu 68,8%. Berdasarkan
Frekuensi Tidak Naik Berat Badan (T) Baduta Stunting Dalam 12 Bulan Terakhir
sebagian besar baduta stunting dengan frekuensi tidak naik berat badan 5-10x
sebanyak 27 orang dengan persentase sebesar 84,4%.
Kesimpulan : Baduta dengan frekuensi tidak naik berat badan diatas 5x baik
berturut-turut maupun tidak berisiko tinggi terhadap stunting.
Kata Kunci : Kenaikan Berat Badan, Baduta, Gejala Stunting